Minggu, 30 Oktober 2016


BANJIR DI INDONESIA













Banjir di Bandung, Jawa Barat memang bukan hal yang baru, namun melihat derasnya arus di beberapa kawasan tentu bukan kejadian yang biasa. Begitu juga dengan DKI Jakarta yang jika satu hari diguyur hujan, beberapa wilayah tergenang air hingga 2 meter. Kawasan elite Kemang, Jakarta Selatan tahun ini menyedot perhatian kita semua, betapa sebuah kawasan yang semestinya aman justru terkena banjir. Begitu juga dengan beberapa provinsi di Indonesia. Jika mengacu pada studi WRI di 2015, Indonesia memang bukan yang nomor satu untuk urusan banjir. Menurut WRI India, Bangladesh, China, Vietnam, dan Pakistan masih lebih parah dari Indonesia. Selain negara-negara tersebut, masih ada negara-negara yang dikatakan WRI sebagai rawan banjir.  Di Indonesia tercatat sekitar 0,64 juta penduduknya rawan terkena banjir. Dari sisi korban jiwa maupun kerugian materiil pun, WRI mencatat bukan Indonesia yang terbesar.  Adalah China yang teratas dengan korban jiwa paling banyak, sekitar 3,7 juta penduduk saat banjir menerjang pada Juli 1931. Sedangkan kerugian besar dari kurun waktu 1990-2005, banjir di Yangtze Songhua, China pada 1998 yang terbesar yaitu USD30,7. Jakarta sebagai ibu kota Indonesia adalah daerah yang sangat rawan banjir. Kenapa?

pertama, karena permukaan tanah wilayah Jakarta di bawah permukaan air. Begitu juga dengan New York, Amerika Serikat atau Amsterdam, Belanda.  Namun, dua negara terakhir mempunyai solusi yang jitu untuk meredam banjir air pasang yang acapkali terjadi.

Kedua,  persoalan tata kota. Bagaimana bangunan-bangunan di Jakarta jauh dari kata aman banjir.  Bukan hanya wilayah-wilayah slum area atau kawasan bantaran sungai yang didirikan bangunan, tapi gedung-gedung bertingkat di Jakarta juga seolah berlomba yang membuat resapan air menurun, bahkan hilang. Dan juga kebiasaan masyarakat Jakarta yang membuang sampah di sungai & penyempitan aliran sungai yang disebabkan kurang perawatan ataupun bantaran yang didirikan bangunan. 

Ketiga,  Ilegal Loging (Penebangan hutan liar) dan Kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan penanaman kembali pada daerah / hutan hutan yang baru di tebangi.

  
sumber : http://nasional.sindonews.com/read/1150229/16/negeri-banjir-1477446370

Tidak ada komentar:

Posting Komentar